Wah, Ternyata Begini Cara Ibu Kenalkan Al Quran pada Anak Tunanetra

Ketika saya menghadiri forum diskusi, saya memutuskan untuk menyimak dengan penuh perhatian. Pada saat itu sang Dosen diminta untuk membedah buku karangan nya yang bertema “Pendidikan Dalam Keluarga”. Ya, ternyata pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama dan sangat berperan penting dalam membentuk kepribadian anak. Seperti sebuah hadist bahwa manusia terlahir dalam keadaan fitrah, tergantung bagaimana lingkungan nya membentuk si anak menjadi majusi, nasrani, yahudi, atau Muslim. Dan orangtua merupakan orang-orang pertama yang dikenali anak. Pada saat prolog sang dosen menyampaikan sebuah cerita dengan nada yang rendah, membuat saya semakin khidmat mendengarkan.

0
675

ta'lim

Oleh : Eva Fauziah Latifah

Ketika saya menghadiri forum diskusi, saya memutuskan untuk menyimak dengan penuh perhatian. Pada saat itu sang Dosen diminta untuk membedah buku karangan nya yang bertema “Pendidikan Dalam Keluarga”. Ya, ternyata pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama dan sangat berperan penting dalam membentuk kepribadian anak.

Seperti sebuah hadist bahwa manusia terlahir dalam keadaan fitrah, tergantung bagaimana lingkungan nya membentuk si anak menjadi majusi, nasrani, yahudi, atau Muslim. Dan orangtua merupakan orang-orang pertama yang dikenali anak.

Pada saat prolog sang dosen menyampaikan sebuah cerita dengan nada yang rendah, membuat saya semakin khidmat mendengarkan.

“Saya sangat kagum dengan Imam Syafi’i yang mampu menghafal Al-Quran pada usia yang sangat muda sekali, 7 Tahun” Lirihnya

Ya, betul. Saya pun mengaguminya dan mungkin semua orang sudah mengetahui hal ini. Dosen pun melanjutkan ceritanya…

“Tapi, kekaguman saya berkurang saat mendengar ada anak yang lebih belia mampu menghafal Al-Quran dari Imam Syafi’i” lanjutnya

Saya jadi penasaran, usia berapakah anak itu?

“Usia nya 4 Tahun, sudah mampu menghafal Al-Quran. Dan anak itu anak yang tunanetra” lanjutnya.

“Subhanalloh” suara audien dengan serentak.

Maha suci Allah, Al-Quran di jaga oleh anak usia 4 tahun dan dia seorang anak yang tunanetra?

Apa kemudian rahasianya?

Apakah anak itu memang di takdirkan untuk menjadi seorang hafidz/ah?

Ah, tidak mungkin!

Siapakah orangtua nya?

Mengapa kemudian saya menanyakan siapa orangtua anak itu? Karena mereka adalah orangtua yang hebat! Mereka mampu mengajarkan Al-Quran dan mengenalkan Al-Quran sampai pada hatinya begitupun pada memorinya.

“Apa kalian tahu apa yang orangtua nya lakukan?”

(Audien hanya menggelengkan kepala)

Tidak ada suara yang terdengar.

Sunyi!

Saya merasa semua audien mendengarkan dengan seksama, karena itu yang saya rasakan.

“Meskipun anak itu Tunanetra, tapi dia tidak Tunarungu” jelas dosen

Saya terbawa suasana, saya malu. Saya yang memiliki anggota tubuh yang normal. Tidakkah saya berusaha menghafalnya? Keinginan tentu ada. Tapi tidak cukup hanya sekedar ingin saja, namun musti berusaha untuk menghafalkan nya.

“Tidak ada yang diperdengarkan oleh ibu nya kepada anak itu selain ayat-ayat Al-Quran. Tidak musik, televisi dan yang lainnya. Ibunya lakukan dari sejak anak nya sebelum lahir”

Saya menghela nafas panjang. Ternyata itu cara ibunya kenalkan Al-Quran pada anak nya yang tunanetra itu!

Cara Ibunya adalah anak nya tidak di perdengarkan selain ayat-ayat Al-Quran, dan dia sudah terbiasa dari sejak berada dalam rahim ibunya yaitu mendengarkan Al-Quran. Ya, dia sudah merekam dari sebelum lahir ke dunia ini. Subhanalloh!

Begini, orangtua mana yang tidak ingin memiliki anak seorang hafidz/ah?

Anak-anak penghafal Al-Quran akan memberi mahkota kepada orangtua nya kelak di Akhirat. Tidak hanya itu, merupakan sebuah perintah Rasulullah untuk mendidik anak agar mencintai Al-Quran. Karena ia merupakan pedoman hidup manusia.

Kemudian, Sang Dosen mulai membedah buku karya nya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here